Pengalaman daftar beasiswa Indonesia-Korea Scholarship Program (IKSP)

 Di tulisan ini, saya ingin share pengalaman daftar beasiswa Indonesia Korea Scholarship Program (IKSP). Tulisan ini didasari karena sangat sedikit (hampir tidak ada) tulisan yang membahas soal beasiswa ini. 

Jadi beasiswa IKSP merupakan beasiswa dari universitas-universitas di Korea Selatan untuk masyarakat Indonesia yang mau lanjut studi S2 di Korea selatan. Beasiswa ini adalah kerja sama antara 50 universitas negeri dan swasta yang ada di Korea Selatan melalui program International Korea Culture Study (IKCS).

Saya mulai tau informasi soal beasiswa ini di awal bulan September 2020. Dari sana saya cari-cari informasi di internet soal beasiswa IKSP dan hasilnya... nihil. Selain informasi dari official instagram dan websitenya, saya ga bisa dapat informasi apapun dari sumber lainnya. Which is sempat mulai membuat saya curiga. Bahkan sempat mau datengin langsung kantornya yang ada di UI Depok (kebetulan saya mahasiswa  UI), tapi ga jadi karena situasi pandemi. 

Sekitar 1-2 minggu sebelum pendaftaran ditutup, saya masih ga berani daftar karena informasinya masih ga jelas. Saya coba chat IKCS, akun-akun instagram yang ikut endorse informasi soal IKSP, dan bahkan coba follow ig dosen UI yang jadi semacam supervisor (kalo ga salah). Dan akhirnya saya mutusin coba daftar setelah ada webinar dan peluncuran program ini secara resmi. 

Jadi beasiswa IKSP ini memang baru terbuka untuk umum di tahun 2020. Sebelumnya sudah ada, namun katanya hanya direkrut dari semacam jalur close reqruitment kali ya. Nah, di bagian pertama saya akan jelasin dulu informasi umum soal beasiswa ini. 

Informasi umum: 

  • Ada dua jenis beasiswa, yaitu beasiswa Profesor dan beasiswa Universitas. Beasiswa Profesor adalah beasiswa yang diberikan oleh profesor Universitas di Korea Selatan. Jadi kalau dapat beasiswa ini, kita akan membantu profesornya melakukan research. Sedangkan beasiswa Universitas diberikan oleh Universitasnya, jadi sama saja dengan beasiswa-beasiswa pada umumnya. Lalu mending pilih yang mana? Kalau dari segi coverage uang beasiswanya, mending beasiswa profesor. Karena akan dapat gaji penelitian juga jadi bisa dipakai tambahan uang jajan dan beasiswa tuition feenya akan dicover 100% (Iya, beasiswa universitas belum tentu dapat 100% tuition fee waiver). Tapi kalau daftar beasiswa profesor, tentunya harus punya skill dasar untuk penelitian ya dan sepertinya beasiswa profesor ini akan sangat susah (mungkin ga ada bahkan) untuk mahasiswa dari rumpun sosial. 
  • Bantuan dana beasiswa: secara umum, ada dua bentuk dana yang diberikan yaitu biaya pendidikan dan biaya pendukung. Tapi jumlahnya akan berbeda antara beasiswa Profesor dan Universitas. Yang pasti untuk biaya pendidikan, beasiswa profesor akan dapat 100% untuk biaya kuliah selama 2-3 tahun, sedangkan untuk beasiswa universitas besaran beasiswa untuk biaya kuliah akan menyesuaikan dengan nilai. Untuk biaya pendukung, akan ada tiket pesawat, biaya belajar bahasa korea untuk awardee berprestasi, dan asrama (untuk beasiswa universitas akan menyesuaikan). Di IKSP ga ada tunjangan untuk biaya hidup, tapi di beasiswa profesor akan ada gaji penelitian yang bisa dipakai untuk tambahan uang jajan.
  •  Syarat pendaftaran: syaratnya sama dengan beasiswa pada umumnya seperti, sudah lulus S1, merupakan WNI, dan lain-lain. Tidak ada syarat khusus untuk jurusan dan tidak ada syarat khusus untuk bahasa korea. 
Tahapan test: 
Untuk bagian ini, jujur aja tahapan test IKSP itu panjaang banget dibandingkan dengan beasiswa lain. Misalnya, saya juga coba ikut daftar beasiswa langsung ke universitas di Korea langsung, dan tahapannya sangat singkat, ga sepanjang IKSP (kapan-kapan saya ceritakan juga pengalaman ini). 
  • Tahapan pertama: administrasi dan essay. Bagian ini belum ada persyaratan administrasi yang ribet, bahkan ijazah dlll saja belum diminta, tapi ada bagian essay yang cukup panjang. Formatnya jawab pertanyaan yang ada di website pendaftaran. Pertanyaan essaynya sama saja dengan essay beassiwa lain (tapi lebih kaya pertanyaan untuk wawancara), contohnya kenapa pilih korea selatan? habis lulus mau kerja apa? kontribusi setelah lulus apa? ya semacam gitulah. Saran saya, jawab saja dengan tulus (ea) dan jujur. Pas daftar juga saya baru lulus S1, kerja aja belom, tapi karena jelas abis lulus S2 maunya jadi apa, akhirnya lulus juga tahap ini. 
  • Tahap kedua: test online untuk materi bahasa inggris dan semacam psikotes. Sebelum test online, kita bayar dulu untuk pendaftaran. Saya lupa besarannya pokonya antara 200-an atau 400-an. Di bagian ini, saya ga belajar sama sekali dan karena pas S1 masuk lewat jalur undangan dan ga pernah begitu belajar soal psikotes, jadi sempat kaget karena soalnya lumayan susah. Tapi alhamdulillah lolos. Sistemnya itu pakai passing grade gitu, jadi selama nilainya di atas passing grade, jadi pasti lolos. Dan passing gradenya ga begitu tinggi sih. Untuk test bahasa inggris mirip banget sama test IELTS.
  • Tahap ketiga: wawancara dengan pihak IKCS. Sebelum wawancara kita ngumpulin kelengkapan adm lainnya, kaya ijazah, transkrip, dll.  Tahapan ini lucu banget sih. Saya udah mempersiapkan kalau ditanyakan pertanyaan beasiswa umumnya kaya “mau jadi apa setelah lulus?” “rencana masa depan” “kontribusi untuk negara” dll, ternyata yang ditanyakan literally cuma “apakah orang tua termasuk mapan?” “apakah pernah ke Korea dan urus Visa?” “apakah punya penghargaan (which is ini udah dimasukan di bagian administrasi dan kugatau kenapa ditanyain lagi)?” “apakah punya sertifikat bahasa inggris?” “IPK berapa?". Di bagian ini saya agak kecewa karena wawancaranya kaya bener-bener ngulang apa yang udah dikumpulin di bagian administrasi, kaya please deh tinggal baca kenapa ditanyain lagi. Saya gatau kriteria di bagian wawancara ini, tapi saya gagal di tahap ini. Feeling saya karena pilih beasiswa profesor padahal ambil jurusan ekonomi. 
  • Tahap keempat: wawancara dengan pihak universitas. Jadi kita tuh bisa pilih 5 jurusan dan universitas yang mau kita ajukan. Dan di bagian ini kayanya wawancara dengan univ2 ini. Saya gatau karena ga pernah ikut bagian ini. 


Ikut IKSP ini jadi pengalaman pertama apply untuk beasiswa S2. Dari kenalan saya yang lagi kuliah di Korea juga, dia nyaranin untuk tanya lebih jelas soal coverage beasiswanya, karena katanya banyak juga mahasiswa beasiswa yang luntang lantung karena ternyata beasiswa ga cover biaya hidup. Karena itu juga saya nekat daftar beasiswa profesor padahal saya jurusan rumpun sosial, karena saya butuh gaji penelitiannya untuk biaya hidup. Karena biaya hidup di korea kan lumayan mahal ya, jadi saya pengen ada tambahan selain dari uang jajan. 

Saran saya, kalau mau daftar beasiswa ini harus udah punya informasi jelas soal univ yang dimau dan jurusan yang dimau. Sama harus udah punya pendapatan yang bisa tunjang biaya yang ga dicover, kecuali kalau keluarganya kaya ya ga pa-pa (tapi kalau kaya, ngapain apply beasiswa wkwk). 

Saya ikut beasiswa ini untuk nambah pengalaman, tapi saya gaakan apply lagi untuk IKSP karena banyak banyak poin-poin yang ga jelas dan ga pasti (ya semacam coverage beasiswanya juga) dan yang paling penting, saya agak trauma dengan sesi wawancaranya yang singat banget (5 menit kayanya) dan hanya menanyakan pertanyaan yang menurut saya bisa dilihat di dokumen yang udah dikumpulkan. 

Informasi lebih soal beasiswa ini bisa lihat di websitenya ya: http://beasiswaiksp.org 


Comments

Popular Posts