Melihat Perspektif Minoritas dari Kacamata Mayoritas

Sekitar satu minggu lalu, saya mengikuti book club yang ada di kantor saya. Niat awal dari bergabung di club ini adalah saya ingin membangunkan kembali minat baca saya yang semakin hilang sejak mulai kuliah. Buku pertama yang dibahas adalah “Divided Loyalties” karya Andrey Damaledo yang menceritakan hasil riset etnografis tentang penduduk ex-Timor Leste yang tinggal di Indonesia. Buku yang cukup menantang bagi saya yang biasa baca novel dan komik saja. 
Topik dari buku ini sangat asing bagi saya, yaitu tentang Displacement, Belonging, dan Citizenship. Topik tersebut membuat saya kesulitan untuk memahami dan menikmati proses dari membaca buku tersebut. Rasanya seperti membaca buku pelajaran yang ga bisa dipahami dengan satu kali baca. 
Di hari pertama pertemuan book club tersebut, kita memutuskan untuk hanya membahas bab 1 karena hampir semua anggota baru selesai membaca hingga bab 1 saja. Pertemuan dimulai dengan membahas refleksi masing-masing orang terhadap buku tersebut. Yang mengejutkan adalah pembahasan buku tersebut terasa lebih menyenangkan saat dibahas bersama daripada saat saya baca sendiri. Setiap orang memiliki pendapat sendiri mengenai bagian mana yang paling spesial bagi mereka. Semua orang terus mengeluarkan pendapatnya hingga akhirnya diskusi berputar di topik identitas dan keberagaman
Ada banyak hal yang baru saya pahami dari diskusi tersebut. Sebagai seseorang yang lahir sebagai bagian dari mayoritas, saya menyadari bahwa banyak perspektif yang ternyata tidak saya ketahui. Saya lahir di Jawa yang merupakan pulau dengan penduduk terbanyak. Saya juga lahir sebagai Muslim yang merupakan agama dengan penganut terbanyak. Dan saya lahir sebagai suku sunda yang merupakan salah satu suku dengan populasi terbanyak. Sangat sulit bagi saya untuk memahami apa yang dialami oleh masyarakat minoritas tanpa mendengar langsung pengalaman mereka. 
Salah satu anggota Book Club menceritakan mengenai pengalamannya sebagai orang Indonesia dengan keturunan India. Ketika dia diperintahkan untuk memakai baju adatnya, dia tentu akan memakai sari. Namun saat berada di sebuah kegiatan formal, dia tidak bisa memakai sari untuk mewakili Indonesia, in the end she is Indonesian. Hal ini sangat berkesan bagi saya, tentang bagaimana hal remeh seperti baju adat bisa memberikan dilema bagi orang lain. 
Dari cerita tersebut, saya memahami bahwa seharusnya seseorang tidak bisa dipaksakan untuk memiliki identitas yang tunggal. Seseorang bisa menjadi masyarakat Indonesia dan keturunan India secara sekaligus. Masyarakat, sistem, dan budaya di dunia tidak seharusnya memaksa mereka untuk memilih menjadi salah satu dari keduanya. Ketika identitas harus tunggal, di sana juga konflik bisa terjadi. Identitas dalam pembahasan ini bukan hanya dalam arti formal yang tercatat dalam dokumen kependudukan, tapi juga stigma dan persepsi masyarakat. 
Masyarakat yang lahir sebagai mayoritas tentu tidak bisa memahami kesulitan hidup yang dialami oleh masyarakat minoritas. Hal itu yang menjadikan mereka cenderung tidak peka terhadap masalah yang dihadapi oleh masyarakat minoritas. Namun fakta tersebut tidak bisa dijadikan sebagai sebuah pembenaran untuk tidak berusaha memahami kebutuhan dari kaum minoritas. Memang sulit untuk berusaha memahami perspektif yang jauh berbeda dari yang kita pahami, namun hal itu bisa dimulai dengan tidak terlalu mengagungkan perspektif yang selama ini kita pegang

Comments